Repositori Kementerian Pertanian

Repositori Publikasi Kementerian Pertanian merupakan kumpulan koleksi digital dari publikasi terbitan lingkup Kementerian Pertanian. Publikasi terdiri dari:

  • terbitan berkala ilmiah (scientific journal, scientific periodical)
  • berkala semi ilmiah (semi populer jurnal)
  • tidak berkala (leaflet, poster, infografis)

Repositori dikelola oleh Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian untuk meningkatkan akses publik terhadap informasi ilmiah sebagai bagian dari komitmen pelayanan publik Kementerian Pertanian dalam penyediaan informasi pertanian.

Guna meningkatkan mutu layanan yang lebih baik, kami mengharap kesediaan Saudara berkenan mengisi Survey Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) terkait layanan Repositori Publikasi Kementerian Pertanian pada link berikut ini https://pustaka.bppsdmp.pertanian.go.id/surveypustakadigital/.

Image by nikitabuida on Freepik
 

Recent Submissions

Item
Prospek Pengembangan Agribisnis Pisang di Indonesia
(Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian, 1993-01-01) Purwoto, Adreng; Sajuti, Rosmijati; Sudaryanto, Tahlim
Dalam Pelita V, pengembangan komoditas hortikultura mendapatkan perhatian besar dari pemerintah guna memenuhi kebutuhan dalam negeri, mengurangi impor, dan mendongkrak ekspor melalui pembinaan seluruh mata rantai agribisnis dari hulu hingga hilir. Perumusan program ini berfokus pada pertanyaan pokok mengenai seberapa jauh produksi harus dikembangkan berdasarkan potensi permintaan dan teknologi, serta identifikasi kendala pada aspek produksi, persaingan pasar, dan urgensi pengolahan hasil. Komoditas pisang dipandang sebagai salah satu produk yang sangat potensial untuk dikembangkan sebagai komoditas ekspor unggulan. Informasi dasar dalam pembahasan ini bersumber dari hasil penelitian agribisnis pisang di tiga wilayah utama, di mana Provinsi Lampung dan Sumatera Selatan dinilai sangat potensial sebagai sentra pengembangan produksi, sementara Provinsi Jawa Barat berfungsi ganda sebagai daerah produsen sekaligus wilayah pemasaran yang sangat potensial.
Item
STRATEGI PENELITIAN BIOTEKNOLOGI TANAMAN INDUSTRI
(Balai penelitian tanaman rempah dan obat, 1989) DARWIS SN., P. WAHID, D. SITEPU, dan M. HASANAH
Membahas strategi dan arah penelitian bioteknologi pada tanaman industri. Bioteknologi diarahkan untuk mendukung perbaikan tanaman, perbanyakan bahan tanaman, produksi senyawa bernilai ekonomi, konservasi, serta peningkatan efisiensi dan produktivitas tanaman industri.
Item
Situasi Komoditas Jeruk di Indonesia: Kinerja, Kendala dan Prospek
(Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian, 1993-01-01) Saptana; Rusastra, I Wayan; Noekman, Khairina M.
Pemerintah mendorong peningkatan produksi jeruk untuk mendongkrak pendapatan petani, memperluas kesempatan kerja, dan memenuhi kebutuhan industri, didukung oleh kandungan gizi yang tinggi serta keuntungan usahatani yang masih memadai bagi petani di tengah tantangan hama. Permintaan jeruk terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk, kenaikan pendapatan, kesadaran gizi, dan pariwisata, sementara ketersediaan lahan potensial masih sangat luas, seperti lahan aluvial di Kalimantan yang baru dimanfaatkan sebagian kecil saja. Meskipun demikian, produktivitas nasional saat ini masih di bawah 7 ton per hektar, jauh dari potensi intensif yang bisa mencapai 20 ton per hektar, sehingga memicu kesenjangan pasokan yang cukup besar antara proyeksi produksi dan kebutuhan nasional. Mengingat pasar ekspor menuntut suplai yang teratur, skala ekonomi, kualitas tinggi, dan harga kompetitif yang sulit dicapai usahatani tradisional, keterlibatan sektor swasta sangat dibutuhkan. Makalah ini bertujuan mengkaji aspek ekonomik agribisnis jeruk nasional mulai dari tren produksi, kinerja usahatani, hingga strategi pengembangan masa depan.
Item
Perspektif Agribisnis Nenas Segar dan Nenas Olahan di Indonesia
(Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian, 1993-01-01) Hadi, Prajogo U.
Nenas atau Ananas comosus merupakan salah satu komoditas buah-buahan yang diusahakan secara luas di berbagai negara, termasuk Indonesia. Berdasarkan karakteristik agribisnisnya, terdapat dua varietas nenas utama di Indonesia yang dikelola dengan orientasi pasar yang berbeda. Varietas Natal Queen diusahakan oleh petani secara tradisional dalam skala kecil pada areal yang sangat luas, dengan fokus utama untuk konsumsi segar dan berorientasi pada pasar lokal atau domestik. Sebaliknya, varietas Cayenne Liese diusahakan secara khusus di beberapa daerah tertentu oleh perusahaan swasta dalam skala perusahaan yang cukup besar, diolah menjadi nenas kaleng menggunakan teknologi modern, serta berorientasi penuh pada pasar internasional. Pemerintah Indonesia berupaya mengembangkan kedua jenis nenas ini melalui kebijakan yang terarah. Pengembangan nenas rakyat diharapkan mampu memperluas kesempatan kerja di pedesaan, mendongkrak pendapatan petani, serta meningkatkan ketersediaan buah sebagai sumber vitamin bagi masyarakat. Sementara itu, pengembangan nenas kaleng diarahkan untuk memajukan kegiatan agroindustri perdesaan, memperluas penyerapan tenaga kerja, dan menambah perolehan devisa negara. Makalah ini bertujuan menyajikan analisis mendalam mengenai perspektif agribisnis nenas segar dan nenas kaleng di Indonesia melalui pendekatan konsep sistem agribisnis. Hasil analisis tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi para penentu kebijakan, pelaku usaha, peneliti, serta penyuluh di bidang pengembangan komoditas nenas. Guna mendukung studi ini, Kabupaten Muara Enim di Provinsi Sumatera Selatan dipilih sebagai wilayah penelitian utama untuk nenas segar karena mendominasi produksi nasional serta menunjukkan perkembangan yang paling signifikan.
Item
HASIL RUMUSAN TEMU USAHA DAN TEMU TUGAS LADA DI BANDAR LAMPUNG, 4–6 PEBRUARI 1986
(Balai penelitian tanaman rempah dan obat, 1989)
Berisi hasil rumusan pertemuan antara petani, pengusaha, pemerintah, dan peneliti lada di Bandar Lampung. Pertemuan bertujuan membahas peningkatan produktivitas, penanganan pascapanen, penerapan hasil penelitian, serta peningkatan peran petani dan pengusaha. Rumusan juga membahas perkembangan kebutuhan dan konsumsi lada dunia, peluang pengembangan usaha tani lada, serta perlunya penyebarluasan informasi teknologi dan pasar kepada pelaku usaha lada.